Dampak Buruk Kemaksiatan




7. Kemaksiatan melemahkan hati dan badan

Dampak buruk maksiat yang membuat hati menjadi lemah merupakan hal yang sudah jelas. Ia akan terus membuat hati menjadi lemah sampai kehidupan hati itu hilang sama sekali. Sedangkan dampak buruk maksiat yang membuat badan menjadi lemah, adalah karena kekuatan seorang mukmin sesungguhnya bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya, semakin kuat pula badannya. Sedangkan orang yang jahat, walaupun badannya kuat, sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah. Perhatikan bagaimana kekuatan perang yang dimiliki bangsa Persia dan Romawi ternyata tak dapat menolong mereka pada saat mereka sangat membutuhkannya. Yaitu ketika mereka berhadapan dengan orang-orang beriman. Justru orang-orang berimanlah yang akhirnya dapat menguasai mereka dengan sebab kekuatan badan dan hati mereka.

8.Kemaksiatan menghalangi orang dari kataatan




Seandainya tidak ada hukuman untuk sebuah dosa kecuali terhalangnya seseorang dari satu amal shalih yang berakibat terputusnya ia dari amal shalih berikutnya dan berikutnya, maka sungguh dengan sebab dosa tersebut, ia terhalang dari amal shalih yang banyak. Padahal setiap amal shalih itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya. Hal ini seperti orang yang memakan satu makanan yang mengakibatkan kemudaratan untuk dirinya, dan membuatnya terhalang untuk memakan sekian banyak makanan lain yang lebih baik.

9. Kemaksiatan melahirkan kemaksiatan yang lain

Sungguh, kemaksiatan itu akan diikuti oleh kemaksiatan lain yang semisal. Sehingga ia akan membuat seseorang sulit untuk memisahkan diri atau keluar dari lingkaran kemaksiatan tersebut. Sebagian salaf mengatakan, “Sesungguhnya di antara hukuman atas suatu perbuatan buruk adalah perbuatan buruk berikutnya, dan di antara balasan atas suatu perbuatan baik adalah perbuatan baik berikutnya.” Apabila seorang hamba telah berbuat satu kebaikan, maka kebaikan yang lain akan berkata, “Kerjakan aku juga!” Dan ketika ia mengerjakannya, kebaikan yang ketiga akan berkata seperti itu pula, dan begitu seterusnya. Sehingga berlipat-lipatlah keuntungannya dan semakin bertambahlah kebaikan-kebaikannya. Demikian pula halnya dengan kemaksiatan. Hingga pada akhirnya ketaatan atau kemaksiatan itu akan menjadi kepribadian yang senantiasa melekat, dan perangai yang mandarah daging pada diri seseorang.

Jika keadaannya sudah sampai pada tingkatan seperti ini, seandainya orang yang suka berbuat kebajikan dan ketaatan meninggalkan perbuatan-perbuatan baik yang biasa ia kerjakan, jiwanya akan terasa sempit dan sesak. Ia akan merasa seperti ikan yang keluar dari air. Perasaan ini akan selalu ia rasakan, sampai ia kembali kepada kebaikan dan ketaatan itu.

Leave a Reply