Kebaikan hati seseorang akan tercermin pada kebaikan lisannya. Orang yang baik selalu memperhatikan apa yang dikeluarkan oleh lisannya.

Kebusukan hati seseorang juga akan tercermin pada lisannya yg busuk. Orang-orang yang berhati busuk tak akan sanggup menyembunyikan kebusukannya dengan memanipulasi lisannya. Orang-orang yang berhati busuk tak akan mampu untuk memaksa lisannya terus berkata manis, selalu ada saatnya lisannya tak terkontrol hingga menampakkan kebusukan yg ada di hatinya.

Menjaga lisan bukanlah perkara yang mudah. Lisan adalah cerminan hati. Ia ibarat bejana yang siap menumpahkan apa saja yang terbersit dari hatinya, sebagaimana berkata salah seorang tabi’in, Yahya bin Muadz:




“Hati merupakan bejana yang akan menumpahkan isi yang ada di dalamnya, sedangkan lisan adalah lubang jalan keluarnya, maka lihatlah seseorang tatkala bicara, lisannya akan menumpahkan isi hatinya, bisa jadi manis, pahit, jernih lagi dingin, dan seterusnya, dan senantiasa menuangkan isi hatinya dengan gerakan lisannya” (HR Abu Nuaim)

Semoga kita terhindar dari perkataan yang sia-sia, lisan yang menyakitkan nan penuh dusta. Semoga Allah melindungi kita dari perkara buruknya lisan.