Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallalahu alaihi Wasallam baru saja tiba dari Perang Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan memiliki uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah Shallalahu alaihi Wasallam melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Rasulullah Shallalahu alaihi Wasallam bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”




Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.

MasyaAllah, begitu mulianya mencari nafkah di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mencari nafkah apalagi yang halal insyaAllah akan mendatangkan Ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruh anggota tubuh menjadi saksi yang akan menolong kita agar terhindar dari api neraka. Tentunya ini semata-mata jika diniatkan sebagai bagian dari ibadah.

Bahkan, bekerja keras mencari nafkah ini termasuk bagian dari jihad. ”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang di jalan Allah ‘Azza Wa Jalla,” (HR. Ahmad).

Selamat bekerja, terus semangat dalam mencari nafkah untuk keluarga, semoga apa yang kita kerjakan dan kita upayakan bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin